Memulai lives Baru kemudian Solusi? Pikir Lagi.

Anda sedang menonton: Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan

Beberapa times lalu saya berbincang dengan seorang teman apa saya rasa noel bahagia mencapai pekerjaan apa ia jalani saat ini. Awalnya diaktifkan oleh sebuah pernyataannya, "pengen cabut dah, capek hang sama rutinitas."

hmm menaiknya saya bilang, lalu saya profil pertanyaan, "Di luar permasalahan pelik soal pandemi, kalo semisalkan gantung bisa kasih louis satu tiket pergi--pergi doang ya-- setelah luar negeri atau nanti tempat manapun yang luís pengen menampakkan dan mulai kehidupan baru luís di sana, luís ambil ga?"

"Ya take lah, pake nanya, hang pengen ke Jepang, Paris atau Swiss deh.""Yakin? ga mau pikir-pikir lagi?"

*

Sebagai orang yang dulu tambahan seringkali ga senang sama pekerjaan, saya rasa perlu menyelamatkan teman dengan membuka caranya berpikir.

Kenapa?

Ketika dihadapkan kesamaan rutinitas, apalagi apa ngebosenin kadang kita dilupakan caranya bersyukur. Klise, memang. Tapi selagi coba dipikir lagi; bangun tidur, pergilah kerja, kerja, pulang kerja, tidur lagi, gitu aja terus tiap hari. Belum lagi di beraliran pulang-pergi macet-macetan dan segala macam kejadian peliknya. Belum lagi mengganggu di kantor, belum lagi melecehkan di rumah. Capek.

Satu-satunya hal apa bisa dinikmati, mungkin weekend, akun itu pun belum tentu weekend-nya sesuai dengan what yang direncanakan. Tetep ketemu detik lagi, action lagi.

Dan lagi-lagi bilang,

*

Originally post by thepiratesship-blog

Di sela-sela rutinitas, otak udah ga jernih, udah gak mindfulnes. Ditambah segala kepalsuan di sosial media. Awal ke-trigger, buat ngeliat pencapaian teman, mulai ngebayangin sesuatu yang dirasa menarik, apa diharap bisa enim pelarian atau bahkan solusi dari rutinitas. Beli barang baru, atau gadget baru, travel barangkali. Hal-hal apa sekarang kawanan disebut-sebut sebagai Self-Love, Self-Care, self Reward you name it.

Lagi-lagi mencapai keadaan kayak gitu, kita jadi kurang bersyukur. Klise.

Balik setelah awal perbincangan saya dan teman soal rutinitas.

Saya inget waktu itu pernah baca artikel di medium sekitar ini, https://medium.com/personal-growth/travel-is-no-cure-for-the-mind-e449d3109d71 saya shang penjelasannya, dan sebagian besar yang saya tulis sekarang adalah maafkan saya yang saya tangkep dari jadwal acara tersebut.

Rutinitas, anggaplah sebagai The crate of everyday Experience, apa di dalamnya terus muter kegiatan sehari-hari. Di luar box, adalah sesuatu yang diimpikan; barang baru, tool baru, travel dan segala macam hal-hal yang dianggap menarik. Implisit sesuatu yang saya tawarkan kepada teman saya ini.

Ketika saya tawarkan teman untuk memulai kehidupan baru, bukankah menarik? siap pasti. Tapi cuma di awal, jangan ketipu.

Memulai hidup baru kemiripan aja mencapai mengganti rutinitas baru, yang pada akhirnya memanggang rutinitas yang mumet lagi. Itupenggunaan cuma mengganti content dari the box of daily Experience mencapai isi-isi apa baru apa tetep aja di atas akhirnya titik balik matahari muter-muter di dalam lagi.

Awalnya excited, memang. Tapi lama-kelamaan tetep enim sesuatu apa biasa lagi.

Pernah dimodernkan beli barang baru atau gadget baru? berapa lama periode excited mencapai barang baru itu? Paling juga sebulan, atau seminggu aja ga nyampe kadang.

Terus apa?

Benang merahnya kan cuma satu, He"s not senang or We"re not happy--kalo ada also yang another ga puas sama hidupnya sekarang.

Saya memanggang inget perkataan David Steindl-Rast apa beberapa waktu lalu saya nonton videonya di kanal You pipe Tedtalk.

Kurang lebih dia bilang, "What is the connection between happiness and gratefulness? Is that happiness kekuasaan us grateful, or gratefulness kekuasaan us happy? If you to speak happiness kekuasaan us grateful, think again."

Kalo itupenggunaan bilang senang bikin kita bersyukur, pikir lagi.

Islam udah lagi dan lebih kerumunan bahas kyung ini, penyimpangan satunya di QS Ibrahim Ayat 7; Jika bersyukur, become ditambah nikmatnya.

Kalo saya bilang nikmat adalah bahagia, ga deviasi kan?

Jadi jelas sampe sini, untuk kita ga harus ganti apapun yang ada di batin Box of day-to-day experience. Ga haruss pindah dan memulai hidup baru di tempat baru. Percuma.

Yang harus diganti adalah the means we think. Apa perlu diganti adalah cara kita memandang dan absorb sesuatu.

Dan most penting, cara kita bersyukur.

Kalo udah bersyukur, setidaknya kita menerima apa yang udah kita dapet sekarang, dan saya pikir menurunnya kadar stress yang bikin kita ga puas sama lives saat ini.

Bahkan bisa lebih aware kemiripan hal-hal kecil yang terjadi dan menemani itu bikin bahagia. Ga harus lah Self-Care atau Self-Love yang nantinya malah bikin Self-Destruct buat merelakan kepentingan jangka panjang buat kebahagiaan sesaat.

Lihat lainnya: Disini Semuanya Wanita‼️Seluruh Alur Cerita The Monkey King 3 Pemeran

Saya ~ no orang apa udah bener-bener bersyukur maafkan saya yang udah saya dapet, in ~ least menjangkau ini bisa enim pengingat kalo sewaktu-waktu saya mulai ke luar cara dan ga bersyukur lagi.

Lalu saya meminta lagi temen saya ini, "Yakin? Ga mau pikir-pikir lagi?"

Dia jawab, "Ya kalo bertaruh udah lebih bersyukur boleh lah ya louis kasih beneran. Haha."