DR Mulyoto Pangestu, penemu mengolahnya penyimpanan pembicara kering (evaporative drying) dengan penyimpanan bersuhu ruangan. (Foto: hamon-design.com/Muhamad Ridlo)
hamon-design.com, Purwokerto - Selama ini, mengolahnya inseminasi melalui donor sperma masih jarang dilakukan untuk manusia di Indonesia. Selain itu, masih tabu, tangani itu ini terbilang mahal. Pasalnya, alat yang digunakan untuk penyimpanan sperma harganya tidak murah.

Anda sedang menonton: Cara biar lama keluar sperma

Sperma dari pria sehat disimpan di instalasi khusus batin tabung-tabung khusus berkode untuk menunjukkan origin sperma. Anjungan disimpan dalam alat khusus bersuhu minus 196 melakukan celcius.

Hal akun itu dilakukan karena menjaga agar toer tetap cair dan hidup. Masalahnya, suhu sedingin itu hanya bisa acquired dengan pendingin (coolant) nitrogen cair dengan alat dan isi ulang apa mahal.

Di Indonesia, proses memperoleh keturunan dari penyumbang sperma buat manusia belum banyak dilakukan. Praktik penyimpananan pembicara hanya diperuntukkan bagi hewan ternak, misalnya sapi dan kambing.


Baca Juga


Praktik apa sama tambahan dilakukan karena menyimpan pembicara pada hewan uji coba laboratorium, kemudian mencit (tikus kecil). Pembicara disimpan untuk mengurangi nilai pakan dan perawatan mencit jantan.

Alih-alih mampu memangkas cost hidup mencit jantan, penyimpanan sperma dengan teknik konvensional tetap cukup mahal.

Pasalnya, alat penyimpanan sperma paling güns adalah USD 5.000 atau keseimbangan dengan Rp 70 juta per pipa nitrogen.

"Selain mahal, nitrogen cair juga berbahaya. Ada risiko keterlambatan nitrogen, tangki bocor, atau maafkan saya yang bisa merusak sperma," ucap Dosen Fakultas Peternakan hochschule Jenederal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, yang kini doktrinnya di Monash University, Australia, Mulyoto Pangestu, beberapa waktu lalu.

Berawal dari keinginan karena memangkas nilai penyimpanan toer itu, Mulyoto lantas does riset untuk menyimpan sperma dalam bentuk kering dan bersuhu ruangan.

 

Saksikan video peluang di bawah ini:


TEKNIK secara rahasia AGAR BETINA CEPAT BUNTING (DR Mulyoto Pangestu)


2 dari 3 halaman

Teknik Simpan sperma Kering dan pada Suhu Ruangan


*

Perbesar
Tabung nitrogen most standar buat menyimpan toer cara konvensional, mencapai suhu minun 196 degree celcius. (Foto: hamon-design.com/Muhamad Ridlo)
Setelah melewati serangkaian riset, akhirnya, ia menemukan teknik penyimpanan toer mudah dan penting murah. Dia menyebut proses pengeringan pembicara yang ditemukannya sebagai pengeringan evaporatif (evaporative drying).

Bahan apa dipakai adalah dua lapis tabung plastik mini (ukuran 0,250 ml dan 0,500 ml) apa disegel dengan panasnya (heat-sealed), kemudian dibungkus lagi dengan aluminium foil. Harga seluruh berwujud itu murah, just Rp 2.500 per unit.

"Ternyata ketemu teknik penyimpanan apa kering itu. Kalau dulu kita beli dan memakai tabung nitrogen harus rutin mengisi. Rutin seminggu ataukah sebulan sekali, untuk kita harus mengisi. Kalau sekarang, begitu untuk kita simpan, taruh di meja saja, bisa, enim suhu ruang," dialah menjelaskan.

Praktik penyimpanan sperma kering dan bersuhu ruangan menyertainya telah terbukti efektor dengan inseminasi buatan di ~ mencit-mencit percobaan, baik di Australia maupun Amerika. Mencit terlahir dari donor sperma sehat dan mirip pejantan.

Terobosan teknik merayakan ini pun memperoleh memaafkan tertinggi, (Gold Award) dalam kompetisi Young Inventors Awards, apa diadakan majalah The Far eastern Economic Review (FEER) dan Hewlett Packard Asia Pasifik.

 


*

Mulyoto yakin teknik penyimpanan sperma dari donor juga bisa diterapkan karena menyimpan sperma manusia. Sperma akan dipilih dari pria yang paling sehat dan paling memiliki kemungkinan terlahir kesatuan tanpa gen resesif apa dapat disebabkan keturunan cacat.

Namun, hingga saat ini, ia mengaku belum pernah menjajalnya untuk menyimpan pembicara manusia dan mengujicobakan untuk kehamilan wanita. Alasannya, karena nilai etika.

"Bisa. Tapi ini mengganggu etis," itu menuturkan.

Pria kelahiran Pekalongan, 55 tahun lalu ini justru lebih tertarik pada upaya pemerintah Indonesia yang kini markas besar menjalankan program sapi bunting mencapai inseminasi buatan (Upsus Siwab) untuk swasembada daging.

Teknik penyimpanan toer kering dan bersuhu ruangan menyertainya dinilai akan mempermudah tugas para insemintor. Mereka untuk mengetahui harus mengambil sperma di instalasi-instalasi mengkhususkan penyimpanan toer yang jaraknya jauh dari subjek (sapi) peternak.

Jarak yang jauh itu untuk membuat persentase tingkat keberhasilan inseminasi buatan rendah. Pasalnya, saat toer keluar dari ruangan pendingin, hanya ada selang waktu circa setengah jam untuk langsung mengaplikasikannya nanti hewan ternak.

Kesuburan toer akan jengkel jika berada di luar pendingin dalam waktu lama apa dapat berakibat sapi untuk melepaskan bunting. Dengan teknik simpan kering dan suhu ruangan, sperma tak requires instalasi khusus. Pembicara pun sanggup disimpan di dalam jangka singa dan di kawasan terpencil.

Lihat lainnya: Rangkuman Dan Soal Cara Merubah Pecahan Desimal Ke Pecahan Biasa Menjadi Desimal

"Setelah processing itu, nilai murah untuk kita noël perlu tangki," itu menambahkan.