*

“Manusia betapa mengejutkannya adalah mereka yang dapat mengubah ketidakmampuan menjadi kemampuan, kelemahan menjadi kekuatan, dan membawa keterbatasan melampaui berbagai batasan…” inskripsi ini disampaikan Mayor Pnb. M.R.Y. Fahlefie dari pasukan Udara 6 Atang Senjaya tatkala mengevakuasi korban Sukhoi supervisor Jet 100 yang moon Mei lalu menabrak Gunung Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meski lampu mudah, evakuasi diakui cukup padat dan sempat making resah mayor Fahlefie, captain pilot heli NAS-332 supervisor Puma. Berikut ini ekstrak kisahnya:

—————– Rabu, 9 Mei 2012, bisa merupakan deviasi satu days yang padat dilupakan insan penerbangan di negara Air. Sore di days itu, sebuah berita mengejutkan saya mengakui di Jakarta: pesawat terbang Sukhoi Superjet (SSJ) 100 nomor registrasi RA-36801 apa sedang melaksanakan terbang demo (demo flight) dari bandara Halim Perdanakusuma pidato hilang kontak. Di batin pesawat terdapat 45 setiap orang dari berbagai kalangan (termasuk akun dan fotografer Angkasa: Dody Aviantara dan didik Nur Yusuf) yang bermaksud merasakan langsung kehebatan serta kecanggihan pesawat penumpang pertama yang diproduksi pabrikan Sukhoi dari Rusia. Pencarian secepatnya dimulai darimana sore aku itu. Namun penggerak cuaca yang cepat berubah di area Gunung Salak Bogor (lokasi perkiraan hilangnya SSJ-100) produksi pencarian mengalami hambatan serius dan belum membuahkan hasil. Esok harinya, 10 Mei 2012, Komandan Lanud Atang Sendjaja (ATS) Marsma TNI Tabri Santoso, S.IP memerintahkan satu pesawat NAS-332 Super Puma (H-3214) dari pasukan Udara 6 berangkat buat melanjutkan pencarian. Saya apa saat menyertainya bertindak sebagai captain pilot berangkat bersama co-pilot Lettu Pnb Budiono, dan dua awak lain serta enam personel dari Kompi senapan 1 Batalyon 467 Korpaskhasau menyundul Halim apa dijadikan posko pencarian. Direncanakan pencarian menjadi dilaksanakan bersama-sama unsur udara lainnya melalui komunikasi ekstrim dengan tim evakuasi darat komposit serta tim auto Control write-up (VCP) TNI AU dari Lanud ATS apa telah diberangkatkan dimensional sebelumnya. Saat take-off pukul 06.00 WIB, cuaca di sekitar Lanud Atang Sendjaja masih berkabut (ground fog), namun pesawat tetap ayo pergi dan 10 menit kemudian mendarat di pesawat terbang Halim. Tampak pemfitnahan helikopter dari berbagai instansi lain sebagai Basarnas, PMI, Derazona, dan lainnya. Pengaturan pencarian udara langsung dipimpin oleh utama Badan SAR Nasional Marsdya TNI Daryatmo S.IP didampingi melalui Panglima Komando kerja TNI AU ns Marsda TNI denda Puruhito.

*

Dasar jurang sekitar pukul 08.00 WIB, Posko mendapatkan details dari tim VCP di kaki Gunung Salak bahwa cuaca sedikit membaik, namun noël akan berlangsung lama. Kesempatan ini dimanfaatkan melalui Kabasarnas apa memerintahkan satu helikopter apa pada saat itu siap dan mampu mandat terbang tinggi karena terbang menuju Gunung Salak. Dengan puncak tertinggi Gunung Salak apa sekitar 7.000 kaki, maka just pesawat H-3214 apa dinilai mampu diatasi kendala ketinggian tersebut. Di sini we go dan pesawat terbang terbang persimpangan Gunung Salak melalui Depok dengan ketinggian terbang 1.500 kaki (saat itu ikut onboard Direktur kerja Basarnas Marsma TNI Sunarbowo Sandhi). Lepas dari Depok, saya memutuskan untuk naik ke 7.000 kaki karena dapat melihat kondisi cuaca di puncak gunung. Usai terbang circa 20 menit, H-3214 mencapai Gunung Salak. Sebelumnya siap disiapkan pola pencarian melalui udara melalui Komandan pasukan Udara 6 Letkol Pnb Hendro. Namun usai tiba di medan yang sesungguhnya, pola pencarian tersebut ternyata meliputi area berpenduduk padat apa cukup luas, yang dalam wajar saya tidak mungkin noel ada cerita dari masyarakat apabila pemandangan pesawat slam di angkasa itu. Dianalisas super cepat ini bawa saya untuk mengubah pencarian ke sekitar area puncak gunung. Gunung Salak luaran tiga puncak. Ketentuan tertingginya apa dikenal mencapai “Puncak Salak 1” mehamon-design.comiki ketinggian sekitar 7.000 kaki. Awan di circa puncak gunung masih menempel diatas saat itu, sehingga saya perlu meyakinkan celah apa betul-betul aman untuk dilalui pesawat. Saya terpisah mengarahkan pesawat terbang dari selatan ke utara, dan batin perjalanan lampu suatu kejanggalan di lereng puncak Salak 1, yakni ada rerumputan yang such terbakar, tetapi noël tampak sama sekali bangkai pesawat. ”Siapa apa bakar-bakar di ketinggian segini?” itu apa ada di ingat saya. Namun buat cuaca yang kurang baik konsentrasi saya tetap di ~ kontrol pesawat. Ketika melintas di lokasi ketiga kalinya, hanya satu saya menunjuk dan mengatakan malalui mikrofon, ”Mungkin menemani itu ya?”. Sontak seluruh awak memusatkan perhatian buat melihat, dan usai tiga kali berputar buat meyakinkan, kopilot Lettu Pnb Budiono berseru, “Bang, saya penampilan lambang Sukhoi di mendasar jurang…!” Kami kembali ke Halim, sambil melaporkan gawangnya temuan kita saat itu malalui tower Halim dan ATS, yaitu periode jatuhnya SSJ-100 pada koordinat 06º 41’61.3” S, 106º44’41.2” E, di lereng west Puncak Salak 1 di atas ketinggian kurang lebih 5.800 kaki. Temuan ini segera dilaporkan malalui Kabasarnas kepada Presiden RI bahwa lokasi jatuhnya pesawat terbang Sukhoi Superjet 100 sudah ditemukan dan operasi pencarian berubah dulu evakuasi.


Anda sedang menonton: Cerita misteri jatuhnya pesawat sukhoi


Lihat lainnya: Uu No 23 Tahun 1999 Tentang Bank Sentral, Sharia And Politics In Modern Indonesia

Kerja pencarian udara terhadap pesawat yang mengalami kecelakaan kali ini tergolong yang tercepat, just dalam 12 kota lokasi kejadian cantik ditemukan sehingga agak mudah jalannya evakuasi. Sayang, cuaca saat akun itu sudah kembali memburuk sehingga diputuskan karena memulai evakuasi keesokan harinya…