Kegiatan kami Kunjungi kita rujukan Indonesia Tokoh Indonesia Agenda budaya
pembawa acara Indonesia Kunjungi kami Kegiatan kalian Tokoh Indonesia Agenda budaya
*

*

Tari Kabasaran, Tarian artikel Minahasa

Bermula dari tarian perang berubah dulu tarian penyambutan tamu. Kombinasi tiga tarian batin ritual adat apa berbeda.

Anda sedang menonton: Nama tari dan daerah asalnya

Kesenian
*

*

WAJAH mereka terlihat garang, menjangkau mata melotot, dan tanpa senyuman. Bersenjatakan pedang dan tombak, mereka bergerak melompat, maju-mundur, dan mengayunkan waffen dengan sigap. Terlihat kemudian prajurit yang berperang menumpas musuh. Tak jarang aksi mereka mengejutkan orang-orang yang melihatnya sehingga berteriak: “arotei, okela” –aduh bukan main, astaga.

Itulah kabasaran, tarian tradisional masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Tari kabasaran silam dimainkan malalui para penari laki-laki yang umumnya bekerja seperti petani atau penjaga keamanan desa-desa di Minahasa. Jika sewaktu-waktu wilayah mereka terancam atau diserang musuh, mereka meninggalkan panggilan dan berubah menjadi waranei atau korps perang.

Menurut adat, penari kabasaran harus berasal dari keturunan sesepuh penari kabasaran. Mereka also memiliki senjata apa diwariskan dari para leluhur. Senjata inilah yang dipakai saat menari.

Kemunculan tarian ini tak sanggup dipisahkan kediktatoran berkepanjangan dan ancaman dari suku-suku lain apa berdekatan. Buat mempertahankan diri, leluhur rakyat Minahasa berusaha memperkuat diri dengan merekrut orang-orang tahan lama dan berbadan besar apa dilatih berperang dengan manfaat pedang (santi) dan tombak (wengko).

Menurut Vivi Nansy Tumuju dalam “Simbol lisan dan Nonverbal Tarian Kabasaran batin Budaya Minahasa” di Jurnal Duta Budaya, No. 78-01 lima ke-48, Juni/Juli 2014, para ksatria yang tuama (bersifat jantan) atau wuaya (berani) inilah militer pertama di Minahasa. Mereka harus menjadi penjaga desa (walak) yang harus sudah siaga jika ada ancaman.

“Gerakan-gerakan para pasukan ketika mereka sedang mempersiapkan diri karena berperang, sebagai lompatan, lompatan maju menyerang, mundur ataukah menyamping untuk menghindari dan menangkis diserang musuh disertai jeritan menakutkan. Itulah yang disebut cakalele atau dalam Minahasa basi sakalele,” ungkap Vivi.

Dari tari cakelele ini pula lahir tari kabasaran. SutisnoKutoyo di dalam Sejarah kuat Nasional daerah Sulawesi phia băc menyebut tari kabasaran merupakan penyederhanaan dan penghalusan dari cakalele, tari kediktatoran sekaligus pemujaan leluhur. Sasaran tari cakalele merasa kurang keramahan menyambut tamu-tamu Belanda, karena gerakan-gerakannya yang kasar dan liar.

“Dengan manfaat gerakan-gerakan quadrille apa diperkenalkan Spanyol maka diciptakanlah tari kabasaran seperti tari untuk menyambut tamu-tamu Belanda,” catat SutisnoKutoyo.

Istilah kabasaran sendiri merupakan perubahan dari kawasaran. Kawasaran berasal dari kata wasar yang artinya ayam jantan aduan yang sengaja dipotong jenggernya (sarang) agar lebih galak saat diadu. “Jadi kabasaran artinya penari yang menari seperti gaya gerak dua ekor ayam apa sedang menyabung, atau identik menjangkau ayam aduan,” ungkap Jessy Wenas batin Sejarah dan budaya Minahasa.

Dulu setiap kampung luaran beberapa penari kabasaran. Organisasi kabasaran ditangani melalui para “Hukum Tua” atau kepala kampung. Mereka mendapat tunjangan garam, beras, gula putih, kain dan tembakau setiap bulan.

“Mereka bertugas melakukan penjemputan adat para tamu agung, upacara adat pemakaman pemimpin masyarakat, dan kemudian Polisi Am buat menjaga kerahasiaan kampung dan penangkap penjahat,” tambah Wenas.

Gerakan tari kabasaran enerjik mewakili semangat seorang pasukan perang, tapi also dinamis mengikuti irama alat musik. Setiap orang gerakan tari berdasarkan komando ataukah aba-aba dari pemimpin tari apa disebut tombolu, yang dipilih sesuai kesepakatan para sesepuh adat. Tarian diiringi alat musik pukul such gong, tambur, atau kolintang.

“Penari apa terluka biasanya untuk kesalahan sendiri, apa dalam chapter ini si penari kurang menguasai sembilan jurus keras dengan pedang dan sembilan jurus tusukan tombak,” ujar Wenas.

Tari kabasaran terdiri dari tiga babak, apa berasal dari tiga tarian dalam upacara adat berbeda: cakalele dari upacara dahulu dan setelah bagian belakang berperang; kumoyak berasal dari upacara korban kepala manusia; dan lalaya’an dari upacara menghilangkan panas jimat-jimat yang melekat di badan.

Masing-masing babak punya gerakan apa berbeda. Babak pertama, cakalele; berasal dari kata “caka” apa artinya dilanda dan “lele” artinya mengejar. Pada babak ini, gerakan penari layaknya bertarung. Penari berpura-pura saling menebas dengan pedang dan poker dengan tombak di dalam iringan langkah kecepatan 4/4 sesuai bunyi tambor.

Kedua, kemoyak; berasal dari kata “koyak” yang berarti mengayunkan senjata. Kata koyak juga bisa diartikan membujuk roh musuh yang terbunuh batin pertempuran agar bisa tenang. Diatas babak ini, para penari benar-benar memainkan senjata dengan gerakan menjadi penekan maju. Tarian also diikuti puisi yang dilantunkan seorang pemuka tari dan ini adalah disambut sorakan para prajurit.

Menurut Wenas, dulu ini merupakan tarian bawa kepala manusia. Diatas tarian ini para kabasaran membentuk lingkaran lalu menari mengelilingi kepala manusia yang diletakkan di tengah cakupan sambil menyanyi lagu-lagu Koyak e waranei, songs patriotik keprajuritan tradisional minahasa tempo dulu.

Ketiga, lalaya’an dimana penari meletakkan senjata tajam sambil menari lionda dengan jenuh senyuman. Lionda, kata Wenas, berarti meletakkan tangan di pinggang dan kedudukan dengan satu feet terangkat. Berbeda dari babak-babak sebelumnya, penari menanggalkan ekspresi serius dan tampang sangar. Mereka mungkin menari sambil tersenyum, kemudian simbol membebaskan rasa amarah usai selesai berperang.

Kostum para penarik tak kalah menarik. Kostum terbuat dari kain tenun khas Minahasa, apa didominasi melukis merah. Para penari juga memakai topi bulu ayam atau bulu burung cenderawasih, kalung, gelang, dan aksesoris lainnya.

“Dahulu pakaian penari sama mencapai penari cakalele, tapi menampakkan pakaian bebas asalkan berwarna merah,” catat SutisnoKutoyo.

Lihat lainnya: Daftar Judul Film Harry Potter Yang Benar, Baru Mau Nonton Harry Potter

Tari kabasaran lestari hingga saat ini. Beberapa doan tari masih merawat kesenian secara tradisional ini di sejumlah kanton di Minahasa sebagai Tombulu (Desa Kali, Desa Warembungan, kota Tomohon), Tonsea (Desa Sawangan), kota Tondano, dan Tontembuan (Desa Tareran).

Tari kabasaran also kerap ditampilkan batin acara penyambutan tamu, kenaikan pangkat pejabat di wilayah Sulawesi Utara, upacara adat pernikahan, dan kegiatan sosial lainnya. ~ pernah ikut membuka pesta olahraga Asian games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.*