Haaaiii...haaaiii...sugeng siang poro pengunjung blog penjahit wanita Asako Terong, ing wedal punika kawula bade nyerat ingkang judulipun injih punika Perbedaan Busana Adat Jogjakarta dan Surakarta kangge nambah knowledge panjenengan sadoyo (heee..bagi yang noël tau artinya silahkan buka terbuka kamus Bahasa Jawa-Indonesia). Oke...oke..kembali diasuh Bahasa Indonesia...Surakarta dan Jogja dulu adalah merupakan satu tangga daaerah di bawah pemerintahan kraton Surakarta. Usai perjanjian Gianti, kanton Surakarta terbagi dulu dua yaitu kanton Surakarta dan Jogjakarta. Walaupun dulu Jogjakarta adalah potongan dari Surakarta tapi ada banyak perbedaan malu antara burger Surakarta dan Jogjakarta. Begitu tambahan dengan pakaian adatnya.

Anda sedang menonton: Perbedaan busana adat jogja dan solo


Pada postingan kali ini saya become menulis perbedaan-perbedaan pakaian adat Surakarta dan Jogjakarta. Silahkan di simak!
*
blangkon Jogja
*
blangkon surakarta

Perbedaannya ada diatas mondolan atau gelung belakang. Kalau Yogyakarta mondolannya highlight dan agak besar. Sementara Solo wujudnya pipih / kempes / trepes. Kok bisa begitu? Masing-masing ada makna filosofis yang menarik. Pada zaman dahulu crowd pria Jawa apa berambut liong sehingga banyak apa digelung usai belakang menyatu mencapai ikat utama sehingga diatas blangkon Jogja ada mondolan ataukah tonjolan di belakang ruang angkasa gelungan rambut. Ada also yang memaknai bahwa gelungan itu bagus aib yang harus disembunyikan baik aib sendiri maupun orang lain. Tabungan rapat2 perasaannya sendiri demi mengolah perasaan orang lain. Tetap tersenyum walau hatinya menangis atau marah.. Inilah akibat watak orang jawa secara umum, langka ada apa blak-blakan tidak punya tedheng aling-aling always dijaga dan dijaga buat wataknya halus. Sedangkan di Solo, buat lebih menutup dengan pemerintahan kolonial, orang-orang Solo sudah terlebih sebelum mengenal cukur. Memanggang Blangkon Solo hanya mengikatkan 2 pucuk ikatan menjadi satu. Dua ikatan ini menyukai 2 kalimat syahadat yang harus diikat kuat, telah terorganisir teguh di di dalam hidup.
Tentang blangkon personally ada 2 filosofi. Apa pertama diletakkan di terutama agar produk yang dihasilkan kepala yaitu berupa ide, pemikiran, konsep haruslah tetap selalu dalam koridor nilai-nilai agama Islam. Enim tidak dibiarkan bebas begitu saja ini adalah tetapi diarahkan agar were berkah untuk sesama. Were rahmatan lil alamiin (rahmat seluruh semesta). Filosofi apa kedua Blangkon bagus makrokosmos (Pemilik makhluk semesta ) sedangkan major adalah mikrokosmos yaitu makhluk bernama manusia. Artinya di dalam menjalankan amanahnya seperti khalifah fil ardhi (pemimpin di Bumi) harus selalu tunduk dan sering kepada penciptanya yaitu sang Khalik.
*
surjan Jogja
Pakaian Adat pria Jogja sehari-hari berpendapatan surjan. Ada 2 macam subjek yaitu surjan lurik dan surjan kembang. Kalau di Solo, pakaian pria namanya Beskap, bentuknya such jas didesain personally oleh setiap orang Belanda yang berasal dari kata beschaafdyang berarti civilized ataukah berkebudayaan.
Perbedaan beskap dan surjan yang most menonjol yakni terletak diatas bentuk pemberian kancing, di atas gaya Solo bentuk kancing berada di samping ini adalah tetapi di atas gaya Jogja letak kancing berada lurus dari overhead kebawah.
Salah satu perbedaan terletak di atas warnanya. Version batik Jogja berwarna limbah dengan corak hitam, sedangkan baju batik Surakarta berwarna keemasan dengan corak tanpa putih. Penggunaan kain baju batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan apa pakem mengenai penggunaan desain busana batik ini. Untuk acara perkawinan, bahan batik yang tangan kedua haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan karena acara mitoni, bahan batik yang boleh dikenakan adalah bahan batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro.
Batik keraton Yogyakarta dan Surakarta berasal dari sumber apa sama,yakni pola batik Keraton Mataram. Tak terkagum-kagum bila kawanan pola keduanya yang sama,meski dalam perkembangannya ada tambahan bedanya. Kawanan kesamaan pola,meski namanya berbeda. Pola yang di Surakarta panggilan Parang sarpa, di Yogyakarta dikenal sebagai golang galing. Pola liris cemeng di Surakarta, di Yogyakarta panggilan rujak senthe. Satu perbedaan apa sangat nyata adalah dalam hal mengenakan wastra batik pola parang dan lereng. Di atas gaya Surakarta,wastra batik dililitkan dari kanan overhead miring usai kiri bawah,sedangkan gaya Yogyakarta lengkung dari kiri atas setelah kanan bawah.Selain itu, perbedaan batik Yogyakarta dan Surakarta yaitu lokasi pada:
Jalur miring desain parang di Solo jalannya dari kiri atas setelah kananØbawah, sedangkan di Yogyakarta dari kanan atas ke kiri bawah. Batik yang bermutu baik hampir noel ada perbedaaan antara bagian dokter dan potongan belakang. Untuk itu bisa ~ dipakai bolak-balik. Perbedaan hanya akan kebenaran kalau si pemakai mengenal tradisinya dan mengikuti cara memakainya.

Lihat lainnya: Yuk, Kenali 10 Cara Menghilangkan Bad Mood Cowok Ini!, 4 Tips Mengatasi Pacar Yang Lagi Badmood


Perbedaan apa lain adalah warna dasarnya. Di Yogyakarta ialahØ penggunaan motif-motif geometris. Para peneliti mendapatkan bahwa kerumunan diantara desain-desain geometris klasik ini tambahan terdapat di atas obyek-obyek kuno apa banyak diantaranya sudah lebih dari 1000 lima umurnya. Maka sebagian orang asumsi batik cantik ada batin masa itu. Sebagian go berpendapat bahwa motif-motif lehernya itu bisa sudah dikenal pada waktu itu tetapi noël berarti bahwa cantik diterapkan batin pembatikan. Tiap desain geometris mempunyai nama dan makna tambahan simboliknya sendiri. Mula-mula makna tambahan khususnya asal mula memutuskan bagi saat-saat subjek dipakai.
Demikian 3 selisih dasar dari pakaian adat Jogjakarta dan Surakarta. Harapan bisa menambah pengetahuan budaya anda.